Hari ini adalah hari hemofilia sedunia. tepat 29 tahun berarti aku menderita hemofilia.
sebuah pernyataan menggelitik muncul di bbm grup.
"gw gak bersyukur atas hemofilia"
29 tahun hidup bersama hemofilia terasa goncang dengan pernyataan itu...
Saya dilahirkan di keluarga yang tidak terlalu religius, namun untuk urusan penyakit, seng ada lawan.
masalah bersyukur atas penyakit adalah masalah penting dalam hidup saya. sebut saja Diabetes, tekanan darah tinggi, asma, sirosis, dan lainnya adalah "teman" dalam keluarga besar ku.
Haruskah aku bersyukur atas penyakit itu?
Sulit untuk menjawab secra langsung, karena ada kontra di hati dan pikiran ku.
seandainya aku tak hemofilia aku pasti bisa mengarungi 7 samudra...
seandainya aku tidak hemofilia pasti 5 benua ku lintasi
mungkin aku sudah punya 12 istri dan 100 anak, pasti aku sudah punya perusahaan besar dan 12.000 pegawai.
namun itu hanya andai.
Tuhan sudah mempercayakan aku menanggung beban dalam hidupku.
Beban yang aku tau takkan diberi andai aku tak sanggup.
Bersyukur, bukan bersyukur atas penyakit ini. tapi aku bersyukur melalui penyakit ini, aku bisa mempelajari bahwa dalam hidup ini aku mempunyai ayah, ibu, kakak, dan keluarga yang begitu menyayangi ku.
bukan hanya harta yang mereka rela korbankan, namun juga hidup dan kehidupan mereka pun pasti rela diberikan andai bisa membebaskan ku dari belenggu penyakit ini.
bersyukur bukan atas hemofilia, namun bersyukur atas begitu Tuhan sayang dan berikan teman yang peduli, dan mau membuka hati dan waktu mereka untuk lebih memahami dan menerima aku apa adanya.
bersyukur bukan atas sakit dn penyakit, tapi atas suka, kebahagiaan dan senyuman atas begitu banyak orang yang masih mau menolong, dan membantu ku selama aku sekolah, kuliah dan bekerja. mereka mau menerimaku apa adanya. mereka mau menyisihkan waktu mereka untuk memahami situasi ku yang berbeda, dan mau menjadi perpanjangan tangan ku di saat aku tergolek lemah dan tak berdaya.
Bersyukur aku diberikan pendamping hidup yang sejauh ini bukan hanya menjadi teman yang setara, tapi terkadang mau menggantikan peranan seorang kepala rumah tangga.
inilah syukurku
Syukur atas betapa hemofilia telah memberikan cara pandang yang jauh beda terhadap dunia tempat ku hidup.
Selamat hari hemofilia teman-teman, dan tetap bersyukur atas apa yang terjadi dalam hidup.
GBU
::Ajie Prahasto,S.Pd:: Palangkaraya, 17 April 2012
sebuah pernyataan menggelitik muncul di bbm grup.
"gw gak bersyukur atas hemofilia"
29 tahun hidup bersama hemofilia terasa goncang dengan pernyataan itu...
Saya dilahirkan di keluarga yang tidak terlalu religius, namun untuk urusan penyakit, seng ada lawan.
masalah bersyukur atas penyakit adalah masalah penting dalam hidup saya. sebut saja Diabetes, tekanan darah tinggi, asma, sirosis, dan lainnya adalah "teman" dalam keluarga besar ku.
Haruskah aku bersyukur atas penyakit itu?
Sulit untuk menjawab secra langsung, karena ada kontra di hati dan pikiran ku.
seandainya aku tak hemofilia aku pasti bisa mengarungi 7 samudra...
seandainya aku tidak hemofilia pasti 5 benua ku lintasi
mungkin aku sudah punya 12 istri dan 100 anak, pasti aku sudah punya perusahaan besar dan 12.000 pegawai.
namun itu hanya andai.
Tuhan sudah mempercayakan aku menanggung beban dalam hidupku.
Beban yang aku tau takkan diberi andai aku tak sanggup.
Bersyukur, bukan bersyukur atas penyakit ini. tapi aku bersyukur melalui penyakit ini, aku bisa mempelajari bahwa dalam hidup ini aku mempunyai ayah, ibu, kakak, dan keluarga yang begitu menyayangi ku.
bukan hanya harta yang mereka rela korbankan, namun juga hidup dan kehidupan mereka pun pasti rela diberikan andai bisa membebaskan ku dari belenggu penyakit ini.
bersyukur bukan atas hemofilia, namun bersyukur atas begitu Tuhan sayang dan berikan teman yang peduli, dan mau membuka hati dan waktu mereka untuk lebih memahami dan menerima aku apa adanya.
bersyukur bukan atas sakit dn penyakit, tapi atas suka, kebahagiaan dan senyuman atas begitu banyak orang yang masih mau menolong, dan membantu ku selama aku sekolah, kuliah dan bekerja. mereka mau menerimaku apa adanya. mereka mau menyisihkan waktu mereka untuk memahami situasi ku yang berbeda, dan mau menjadi perpanjangan tangan ku di saat aku tergolek lemah dan tak berdaya.
Bersyukur aku diberikan pendamping hidup yang sejauh ini bukan hanya menjadi teman yang setara, tapi terkadang mau menggantikan peranan seorang kepala rumah tangga.
inilah syukurku
Syukur atas betapa hemofilia telah memberikan cara pandang yang jauh beda terhadap dunia tempat ku hidup.
Selamat hari hemofilia teman-teman, dan tetap bersyukur atas apa yang terjadi dalam hidup.
GBU
::Ajie Prahasto,S.Pd:: Palangkaraya, 17 April 2012

No comments:
Post a Comment